Pendidikan Agama dalam Keluarga

Pendidikan Agama dalam Keluarga
KH Imam Zarkasyi
Keluarga memerankan peranan penting dalam pendidikan agama. Namun sebagian besar keadaan keluarga sangat rapuh sehingga tidak memenuhi syarat-syarat pendidikan, seperti tidak memiliki/menguasai pengertian, keyakinan dan ketrampilan agama, di samping tdak mempunyai cukup aktu dan energi untuk mendidik, serta pendidikannya masih rendah untuk menghadapi persoalan anak didiknya.

Tak hanya itu, situasi dan kondisi keluarga tidak menunjang pendidikan agama, di samping masuknya pengaruh negatif yang datang melalui media komunikasi televisi radio, film, dan bacaan. Belum lagi keadaan perumahan dan ruang tinggal yang sangat menyedihkan, berjubel, berhimpitan, serta penuh sesak dengan manusia dan alat-alat rumah tangga. Ditambah metode behavioral approach (bil hikmah wal mau'izhatil hasanah) praktis tidak dapat dilaksanakan dengan baik.

Keadaan itu sangat suram dan mencemaskan. Satu-satunya harapan yang menimbulkan optimisme adalah kesadaran yang menimbulkan optimisme adalah kesadaran dan keinginan orang tua untuk menanamkan kepada anaknya: ketauhidan, akhlak, dan budi luhur berdasarkan moral agama.

Untuk menghadapi tantangan dari pengaruh negatif pembangungan dan penyerapan teknologi modern itu, orang melihat agama sebagai senjata yang ampuh dan pendidikan agama meruakan jalan yang harus ditempuh. Dalam rangka ini uluran tangan dari Majelis Ulama sangat dibutuhkan. Jika keluarga sebagai inti masyarakat keadaannya telah menjadi rapuh, maka kehidupan moral masyaraat pun akan menjadi lumpuh.

Meluruskan Sikap

Jika digali lebih dalam, kesalahan masyarakat yang mengakibatkan timbulnya konflik antara orang tua dan anak serta kemunduran pendidikan agama dalam keluarga antara lain adalah kesalahan sikap dalam memilih jalan, atau kesalahan dalam menentukan sikap ketika menghadapi persimpangan jalan dalam suasana yang dikatakan "pembaruan". Kesalahan sikap itu dimulai dari orang tua yang tidak berpegang kuat pada prinsip moral agama, atau mereka hanyut dibawa perubahan zaman.

Pandangan tentang kehidupan modern telah mengaburkan penglihatan mereka tentang makna yang prinsip dan mana yang bukan, mana yang benar dan mana yang salah, serta mana yang baik dan mana yang buruk. Kecendrungan untuk mengejar kemajuan dan kenikmatan materiil mengkibatkan perbuatan-perbuatan seperti suap, korupsi, kecurangan, dan kesewenang-wenangan.

Semboyan "segala jalan boleh ditempuh" (Het Doel Heiling De Middelen) telah menjadi pedoman dalam mengejar kekayaan dan kenikmatan, tanpa menghiraukan batal dan haram. Sering juga prinsip-prinsip Machiavellisme, sseperti "yang benar itu yang berkuasa" diterapkanuntuk mencapai tujuan, tanpa menghiraukan baik-buruk serta benar salah.

Sepintas akan dirasakan adanyakemajuan dan kenikmatan dibidang materiil. Namun, di lain pihak tidak diinsyafi adanya pencemaran jiwa (mental pollution) yang merayapi dirinya dan menjadi sumber kemiskinan jiwa seluruh keluarganya.

Jika orang tua hanyut dibawa arus zaman dalam mengejar kenikmatan dan kekayaan, maka si anak akan lebih mudah lagi larut sampai tenggelam ke lembah hitam. Sebab mereka umumnya belum memiliki senjata untuk dapat mengendalikan diri dan belum memiliki senjata untuk dapat mengendalikan diri. Rangsangan kehidupan mewah yang mengakibatkan segala dorongan nafsu yang dengan mudah mereka jumpai di rumah atau di jalan akan cepat diserap tanpa pikir panjang dengan gelora darah mudanya.

Pencemaran mental yang demikian itu sedikit demi sedikit telah merusak sendi-sendi kehidupan moral agama dalam keluarga dan menimbulkan korban yang sangat mahal berupa keruakan moral yang sangat menyedihkan pada diri anak-anak. Setelah melihat kenyataan kerusakan moral yang menimpa anaknya, barulah orang tua menyadari kesalahan dalam cara berpikirnya. Maka timbullah keinginan untuk memperbaiki akhlak buah hatinya, dan teringatlah kembali kepada jalan agama yang dulu pernah memberikan ketentraman dan kebahagiaan dalam kehidupan keluarga.

Sungguh berat tugas kita memperbaiki pendidikan keluarga, karena keadaannya yang sudah sangat rapuh. Akan tetapi, bagaimanapun keadaannya harus diperbaiki. Kesadaran serta keinginan orang untuk kembali kejalan agama dapat dijadikan modal yang positif untuk titik tolak usaha perbaikan pendidikan agama dalam keluarga.

Dengan meluruskan sikap orang tua dalam menghadapi suasana pembaruan atau modernisasi kehidupan sosial budaya, maka lambat laun akan dapat dibentuk suasana kehidupan moral agama yang serasi dengan kemajuan di bidang materiil.

Hasil usaha di bidang pendidikan memang tidak segera dapat dilihat dengan konkret seperti hal nya usaha dibidang materiil. Watak pendidikan adalah evolusioner. Oleh sebab itu, tidak dapat kita gunakan semboyan revolusioner. Jalan menju kerusakan moral dapat dilalui dengan cepat, tetapi menempuh jalan menuju perbaikan eminta waktu yang lama dan keteguhan hati.

Dengan berpegang teguh pada perintah Allah dalam Al-Qur'an: Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (Q.S. at Tahrim: 6), dapat diharapkan pendidikan agama Islam dalam keluarga akan berhasil dengan baik.

Pendidikan Agama Dalam Keluarga*

KH Imam Zarkasyi

Pendiri Pondok Modern Gontor (21 Maret 1910-30 April 1985)

* Makalah disampaikan dalam seminar tentang Pendidikan Islam di jakarta, 17 Juli 1976

Description: Pendidikan Agama dalam Keluarga Rating: 5 Reviewer: Chintya Nada Pangestika - ItemReviewed: Pendidikan Agama dalam Keluarga

Posted by Chintya Nada Pangestika on Friday, September 7, 2012 Updated at: 4:30 PM @ Majalah Gontor

Share this post :

Post a Comment

Test Sidebar

 
Support : Creating Website | Johny Template | IB-Course
Copyright © 2011. Majalah Gontor - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger